Oleh: dhony sucahyo | 14 Mei 2010

SEKADAR BERTAHAN HIDUP?

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam

taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu

                                            (Kejadian 2:15)

 

 

Ada sebagian orang kristiani yang berpendapat bahwa pekerjaan yang

dijalani sehari-hari sekadar untuk bertahan hidup-tanpa ada makna

spiritual. Mereka berpikir bahwa Tuhan lebih peduli kepada doa,

nyanyian, saat teduh, dan semua kegiatan rohani. Bagi mereka,

pekerjaan yang paling menyenangkan Tuhan adalah menjadi pendeta atau

misionaris. Akibatnya, mereka mengerjakan pekerjaan sehari-hari

mereka dengan setengah hati dan bahkan kerap dihinggapi rasa

bersalah.

 

Pemahaman ini tidak sejalan dengan apa yang terdapat dalam firman

Tuhan hari ini. Dikisahkan bahwa setelah Adam diciptakan, Allah

memberinya tugas. Tugas ini bukanlah untuk berdoa, membaca Alkitab,

menyanyikan pujian, atau kegiatan rohani yang lain. Tugasnya adalah

untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden (Kejadian 2:15). Bahkan

salah satu tujuan Adam diciptakan adalah untuk berkarya dan mengelola

seluruh ciptaan (Kejadian 1:28).

 

Untuk menjelaskan konsep ini, Martin Luther, seorang tokoh reformasi

gereja abad ke-16, pernah berkata, “Meskipun aku tahu bahwa besok

dunia akan kiamat, aku akan tetap menanam pohon apelku.” Inti kalimat

ini adalah bahwa pekerjaan sehari-hari kita (seperti bertani,

berdagang, mengurus keluarga, belajar, dan sebagainya) memiliki makna

spiritual yang sama dalamnya dengan kegiatan-kegiatan rohani kita

(seperti berdoa, bersaat teduh, maupun kebaktian). Bekerja merupakan

salah satu hal penting yang Tuhan ingin kita lakukan dalam hidup ini.

Karena itu, sudah sepantasnya kita memperlakukan dan mengerjakan

pekerjaan kita sama seriusnya dengan kegiatan rohani kita.

 

             PEKERJAAN KITA SAMA PENTING DAN BERHARGANYA

                     DENGAN KEGIATAN ROHANI KITA

 

 

 

 

 

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: